Pria kelahiran Bangkalan itu menceritakan bahwa dirinya mempunyai tiga anak dan untuk membiayai sekolahnya, keseringan berhutang ke tetangga, karena hasil jualannya kadang tidak cukup untuk dimakan apalagi untuk bayar sekolah anak.
Walau demikian, pria yang mempunyai tiga anak itu selalu optimis untuk menghidupi keluarganya karena dirinya memercayai bahwa semua rezeki sudah ada yang mengatur.
“Kami hanya bisa berjuang dan berdoa kepada yang Maha Pemberi untuk menghidupi ketiga anak dan keluarga. Saya luntang-lanting ke sana ke mari demi mempertahankan hidup bersama keluarga,” keluhnya, dengan nada sedih di depan awak media Madurapers.
Lalu, ditanya tentang sumber penghasilan lain, beliau menjawab bahwa sumber penghasilannya hanya dari laut dan tidak ada lagi. Sedangkan yang hasil dari laut tidak cukup untuk dimakan. Meskipun demikian, dirinya tetap tegar demi keluarga tercintanya.
“Reziki sudah diatur, Mas. Saya hanya bisa pasrah dengan hidup yang sederhana ini,” tuturnya.
“Saya tidak punya rumah sendiri, Mas, saya ngontrak, setiap tahunnya 2 juta 500 dengan pasilitas sederhana. Mau ngontrak yang mewah seperti orang-orang lain tidak mungkin karena penghasilan saya, Mas, intinya tidak kehujanan dan keluarga ada tempat untuk berteduh. Itu lebih dari cukup buat saya, Mas,” tandaanya
Pria yang juga mantan tukang becak itu menjelaskan, dirinya mengakui bahwa krisis yang melanda saat ini membuat cemas dalam mempertahankan hidupnya, ditambah lagi adanya covid-19 ini yang membuat para nelayan kehabisan ide untuk menjangkau pekerjaan lain.
“Makanya saya lebih memilih kerja ini, Mas, mau kerja lain sulit, apa lagi sekarang semua tersendat oleh covid-19, mau bekerja juga tidak mungkin. Jadi, saya tetap mempertahankan pekerjaan saya sebagai nelayan walaupun hasinya tidak seberapa,” tutupnya.
