Opini  

Eksistensialisme Mahasiswa Telah Dipertanyakan

Madurapers
Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, asal Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep. Pernah menulis buku kumpulan esai berjudul "Titik Hitam di Pundak Mahasiswa".

Ironisnya, mewabahnya Covid-19 di negara lain bisa teratasi dengan cepat, akan tetapi berbeda dengan Indonesia yang hingga saat ini masih tetap parah. Sehingga pelbagai asumsi publik pun tidak bisa dihindari bahwa pemerintah telah bermain bisnis dibalik ini semua. Demikian juga dengan penilaian sejumlah mahasiswa yang berpendapat bahwa pemerintah telah mengambil kesempatan untuk kepentingannya sendiri di balik mewabahnya Covid-19.

Hal ini sempat ramai dilontarkan di forum-forum mahasiswa, aksi demonstrasi, dan lain sebagainya, pada saat pemerintah membahas RUU Omnibus Law. Padahal, di samping itu masyarakat diminta untuk menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan tidak beraktivitas di luar rumah, akan tetapi pemerintah malah berduyun-duyun mengambil kesempatan ini untuk membahas RUU tersebut, begitulah kira-kira ungkapan mahasiswa pada saat itu.

Semakin ke sini, polemik di balik pandemi Covid-19 semakin memanas, kritik yang disampaikan oleh masyarakat melalui berbagai media telah dibungkam secara halus, poster-poster yang bernarasi kritis terhadap kepemerintahan mulai ditutupi, bahkan aksi demonstrasi harus dibatasi jumlah massanya dengan dalih penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Melihat polemik yang terjadi di tengah bangsa ini, patut kiranya kita pertanyakan dimana letak peran mahasiswa yang katanya adalah pioner gerakan sosial atau kontrol sosial. Mungkinkah eksistensialisme yang awalnya sering didiskusikan itu telah padam, sehingga lebih tertarik untuk ikut arus pada perguliran zaman, atau bisa jadi wahana berpikir mereka telah kering lantaran pendidikan yang diberikan padanya sangat gersang. Entahlah.

Mahasiswa memanglah pemotor gerakan paling masif diantara banyak gerakan yang lainnya, akan tetapi setiap gerakan yang dibangun itu tidak akan ada artinya jika dia tidak paham pada konflik yang terjadi atau bahkan hanya sekadar mengaku paham. Salah satu pakar strategi perang di China, Sun Tzu mengatakan, “kenali dirimu maka 50 persen kemenangan di tanganmu, kenali lawanmu maka 50 persen kemenangan di tanganmu, kenali dirimu dan lawanmu maka 100 persen kemenangan ada di tanganmu”. Maka dari hal itu dalam membangun sebuah gerakan tentunya mahasiswa harus paham dengan eksistensialisme-nya sendiri, sehingga yang dilakukan itu tidak menjadi bumerang baginya.

Hal ini bukan berarti menjadikan mahasiswa untuk berdiam diri, melihat realita yang terjadi, selebihnya didiskusikan dan akan dikawalnya jika kondisi mulai mereda. Diskursus yang didapat dari hasil diskusi hanya akan menjadi mimpi gerakan yang utopis jika tidak segera direalisasikan. Sebab perubahan hanya bisa tercipta oleh usaha taktis bukan mimpi dan ilusi.

Bangsa ini membutuhkan pemuda untuk dapat bebas dari konflik yang sedang menjeratnya, dan pemuda harus sadar akan posisi dan peranannya. Idealisme tidak hanya menjadi jajanan di atas meja kopi, akan tetapi dapat dijadikan kekuatan besar untuk membangun peradaban bangsa yang lebih baik. Salam mahasiswa!.

*Penulis adalah Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, asal Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep. Pernah menulis buku kumpulan esai berjudul “Titik Hitam di Pundak Mahasiswa”. Saat ini menjadi wartawan di madurapers.com

Penulis: Moh Busri, Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, asal Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep. Pernah menulis buku kumpulan esai berjudul "Titik Hitam di Pundak Mahasiswa".