Isu Narkoba Guncang Pesantren, Kiai Mahrus Ajak Ulama Turun Tangan

Admin
Kolase KH Mahrus Abdul Malik dan Anggota DPR RI Aboe Bakar Alhabsyi, perihal isu narkotika masuk pesantren
Kolase KH Mahrus Abdul Malik dan Anggota DPR RI Aboe Bakar Alhabsyi, perihal isu narkotika masuk pesantren, (Foto: Agus/Madurapers, 2026).

Sampang — Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan Jrangoan, Omben, Kabupaten Sampang, KH Mahrus Abdul Malik, menyerukan konsolidasi ulama Madura untuk memperkuat benteng pesantren dari ancaman narkotika.

Seruan itu muncul di tengah polemik pernyataan Anggota Komisi III DPR RI, Habib Aboe Bakar Alhabsyi, yang sempat menyinggung dugaan keterlibatan oknum pesantren dalam jaringan narkoba.

KH Mahrus Abdul Malik secara terbuka mengajak para kiai dan ulama yang tergabung dalam Aliansi Ulama Madura (AUMA) dan Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura (BASSRA) untuk bersatu mendukung langkah pencegahan peredaran narkotika di lingkungan pesantren.

“Saya mengharapkan dukungan para kiai, khususnya AUMA dan BASSRA, untuk bersama-sama mendukung upaya pencegahan narkoba di pesantren,” ujar KH Mahrus, Rabu (15/4/2026).

Menurutnya, pesantren harus menjadi ruang yang steril dari penyalahgunaan narkotika. Ia menilai langkah yang diinisiasi Komisi III DPR RI, termasuk oleh Habib Aboe Bakar, perlu dikawal secara serius oleh kalangan ulama.

“Pesantren harus benar-benar dijaga. Kami memohon kepada para kiai untuk ikut mengawal perjuangan ini,” tegasnya.

Di sisi lain, polemik yang berkembang akibat pernyataan Habib Aboe Bakar dalam rapat kerja Komisi III DPR RI bersama BNN dan Bareskrim Polri pada 7 April 2026, memicu reaksi keras dari berbagai kalangan di Madura.

Dalam rapat tersebut, Aboe Bakar sempat menyebut adanya informasi dugaan keterlibatan oknum ulama dan pesantren dalam jaringan narkotika. Pernyataan itu dinilai terlalu general dan menimbulkan kegaduhan.

Menyikapi hal tersebut, Aboe Bakar akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.

“Saya menyampaikan permohonan maaf sedalam-dalamnya. Pernyataan saya sebelumnya terlalu umum dan tidak tepat,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menegaskan tidak memiliki niat untuk mendiskreditkan pesantren maupun ulama di Madura. Ia mengaku sangat menghormati para kiai dan habaib.

“Saya sangat menghormati para ulama. Mereka adalah guru-guru yang saya cintai dan hormati,” katanya.

Aboe Bakar menjelaskan bahwa pernyataannya dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap maraknya peredaran narkotika. Namun, ia mengakui cara penyampaiannya tidak tepat sehingga memicu multitafsir.

Sebagai bentuk tanggung jawab, ia berkomitmen akan menemui langsung tokoh-tokoh masyarakat di Madura, meliputi Bangkalan, Sampang, Pamekasan, hingga Sumenep.

“Sebagai bentuk tanggung jawab, saya akan menemui langsung para tokoh masyarakat yang merasa keberatan,” ungkapnya.

Polemik ini menjadi pengingat penting bahwa isu narkotika harus ditangani secara serius tanpa menimbulkan stigma terhadap lembaga pendidikan keagamaan. Di saat yang sama, peran ulama dinilai krusial sebagai garda terdepan dalam menjaga moralitas dan ketahanan sosial masyarakat, khususnya di lingkungan pesantren.