Tokoh  

K.H. Ahmad Dahlan: Dari Kauman ke Kebangkitan Bangsa

Madurapers
K.H. Ahmad Dahlan, ulama progresif dan pendiri Muhammadiyah, memainkan peran penting dalam membangkitkan kesadaran intelektual Islam di Indonesia. Diakui sebagai Pahlawan Nasional pada 1961, warisannya tetap hidup dalam gerakan pembaruan Islam yang ia rintis.
K.H. Ahmad Dahlan, ulama progresif dan pendiri Muhammadiyah, memainkan peran penting dalam membangkitkan kesadaran intelektual Islam di Indonesia. Diakui sebagai Pahlawan Nasional pada 1961, warisannya tetap hidup dalam gerakan pembaruan Islam yang ia rintis. (Sumber foto: PWMU, 2023)

Perkumpulan seperti Nurul Islam, Al-Munir, dan SATF tumbuh sebagai bagian dari jaringan gerakan yang ia bangun. Pengajian, perkumpulan, dan jamaah lokal juga dibina dalam semangat dakwah yang bersih dari politik.

K.H. Ahmad Dahlan, mengutip Wikipedia, juga menjalin dialog lintas iman dengan tokoh Katolik seperti Pastur van Lith. Ia masuk gereja dengan pakaian haji tanpa ragu, menandai keberanian berdialog demi toleransi.

Gagasan Muhammadiyah menyebar melalui dakwah keliling dan relasi dagangnya. Ulama dari berbagai daerah datang berguru dan mendukung gerakannya, menjadikan Muhammadiyah gerakan nasional.

Pemerintah Hindia Belanda akhirnya mengizinkan pendirian cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia pada 1921. Saat itu, jaringan Muhammadiyah sudah menjangkau banyak kota besar di Nusantara.

Sebagai pemimpin demokratis, ia menyelenggarakan pertemuan tahunan untuk evaluasi dan pemilihan pemimpin organisasi. Ia juga dikenal sebagai wirausahawan batik yang mandiri secara ekonomi.

Ia menikahi Siti Walidah, pendiri Aisyiyah, dan memiliki enam anak. Dari beberapa pernikahan lain, ia memiliki keturunan yang kelak turut melanjutkan perjuangannya.

K.H. Ahmad Dahlan wafat pada 23 Februari 1923 dan dimakamkan di Karangkajen, Yogyakarta. Namun warisannya terus hidup dalam karya, pendidikan, dan amal sosial Muhammadiyah.

Pada 1961, negara menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional atas jasanya dalam memajukan umat dan bangsa. Melalui Muhammadiyah dan Aisyiyah, ia membangkitkan kesadaran sosial, pendidikan, dan kesetaraan perempuan.