Meskipun sibuk berdagang, Ifan tak pernah mengorbankan kewajibannya sebagai mahasiswa. Ia tercatat sebagai mahasiswa yang disiplin dan tidak pernah bolos kuliah.
“Meskipun jualan kadang sepi, saya tetap bersyukur dan tidak pernah minta uang untuk jajan atau kebutuhan kuliah,” ujarnya dengan nada tulus. Hal ini membuktikan konsistensinya menjaga prinsip hidup mandiri.
Keluarga pun turut merasa bangga dengan dedikasi Ifan. “Dia tidak pernah menyusahkan, selalu mandiri dan tidak pernah bolos kuliah. Kami sebagai orang tua tentu bangga,” ungkap Moch. Ishak, ayah Ifan.
Dukungan moral dari keluarga menjadi penyemangat bagi Ifan dalam menjalani usahanya. Ia terus berusaha mengembangkan diri tanpa bergantung pada bantuan finansial.
Kisah Ifan menegaskan bahwa kemandirian bisa dimulai dari langkah kecil dan sederhana. Gerobak sate di perempatan jalan bisa menjadi sumber inspirasi dan kekuatan besar.
Dengan tekad dan kerja keras, Ifan membuktikan bahwa mahasiswa bisa berdaya dan bertanggung jawab. Ia adalah gambaran nyata bahwa masa depan bisa dibangun dari tangan sendiri.
