Menariknya olahan makanan yang sehat dan lezat tersebut dibuat oleh anak sendiri dengan dibantu orang tua. Namun tetap harus menumbuhkan kesadaran kepada anak betapa pentingnya menjaga lingkungan dengan menerapkan konsep zero waste. Misalnya makanan tersebut tidak boleh dikemas dengan menggunakan bahan plastik sehingga dapat memanfaatkan dedaunan salah satu contohnya yaitu daun pisang dan daun pandan, bahkan masing-masing anak ada yang membawa wadah sendiri dari rumah.
Anak-anak didampingi oleh orang tua masing-masing untuk berjualan makanan hasil olahannya bersama dengan sang ibunda. Guru-guru RA Bakti Telang membagi 5 kelompok yang menyajikan menu makanan berbeda seperti kelompok B1, yaitu olahan dari pala pendem terdapat klepon, carangmas, getuk, singkong lumer, kacang coklat, kue kentang, dan donat kentang. Kelompok B2, yaitu olahan dari biji-bijian terdapat onde-onde, lemper, pop corn, jasuke, sushi, es potong kacang ijo, susu kedelai, keripik tempe dan bubur.
Kelompok A1, yaitu olahan dari aneka sayuran yaitu pentol wortel, urap sayur lontong, kentang krispi, telur dadar sayur, sayur pecel, mie goreng sawi, tahu goreng isi sayur, dan puding bayam. Kelompok A2, yaitu olahan dari tanaman toga seperti nasi ayam kebuli, bangket jahe, nasi bakar ayam suwir dan pepes tahu daun kemangi, rempeyek dan bakwan yang terbuat dari daun kelor, puding bunga telang, klepon dari daun pandan dan minuman yang terbuat dari jahe. Terakhir, yaitu kelompok bermain (KB) menyajikan olahan dari buah-buahan, seperti es kul-kul, sate buah, pisang coklat, salad buah, puding buah, dan jus alpukat.
Beragam jenis makanan tersebut hanya dijual seharga 2.000 ribu rupiah untuk anak-anak karena yang terpenting adalah bukan dari harga jumlah uang tersebut namun bagaimana anak-anak mendapatkan banyak pengalaman secara kongkrit mulai dari mengenal berbagai tanaman lokal Madura yang diolah menjadi sebuah makanan.
Selain itu tidak hanya terdapat olahan makanan saja di kegiatan pasar rajheh namun terdapat beberapa media pembelajaran yang dapat memberikan edukasi kepada anak sebagai salah satu contoh adalah media “Ajhuwelen Sayor” yang berarti “Jualan Sayur”.
Media tersebut dibuat dengan menggunakan bahan-bahan yang tahan lama dari kayu dan kain flanel. Media ini mengajarkan kepada anak bagaimana berpura-pura menjadi seorang penjual dan pembeli sayuran, seperti yang ditegaskan oleh Vera.”
Penerapan kegiatan tersebut memiliki banyak manfaat yaitu memberikan edukasi kepada anak, orang tua bahkan guru dalam menyajikan makanan sehat dari alam sekitar dan membiasakan anak-anak untuk hidup lebih ramah lingkungan di sekolah RA Bakti Telang.
