Sumenep – Beredar pernyataan Pengurus Besar (PB) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang mendesak Presiden Joko Widodo untuk mundur dari jabatannya karena dinilai gagal menangani pandemi Covid-19.
Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal Advokasi dan Kebijakan Publik PB PMII, Armed terhadap sejumlah media pada Kamis (19/08/2021) malam.
“Kami memberikan pilihan kepada Presiden Jokowi untuk berbenah atau mengundurkan diri dari kursi Presiden sebagai bentuk pertanggungjawaban atas berbagai kegagalan kebijakan beliau dalam menangani pandemi yang semakin tidak terkendali,” ungkap Armed, sebagaimana dilansir dari beritabangsa.com.
Selang tiga hari dari itu, tepatnya Sabtu (21/08/2021) PB PMII kembali memberikan pernyataan yang ternyata bertolak belakang dengan ungkapannya di awal. Hal itu diketahui dengan adanya berita yang termuat di laman resmi m.rri.co.id dengan judul,”PB PMII Siap Bantu Pemerintah Tangani Covid-19″.
Menyikapi pernyataan PB PMII yang simpang-siur ini, Pengurus Cabang (PC) PMII Sumenep, Qudsiyanto mengaku tidak paham dan masih belum selesai mengkajinya.
“Persoalan respon PMII Sumenep tentang permintaan PB PMII meminta Jokowi mundur. Kita belum mengkaji mendalam sabab musababnya. Karena PB PMII tentu kajiannya panjang soal itu dan kita belum mengkajinya. Jadi belum bisa komentar,” jelasnya, Senin (23/08/2021).
Perihal kajian soal isu Covid-19, pria yang akrab disapa Qudsi ini menjelaskan bahwa PC PMII Sumenep memang terus menerus membahasnya, akan tetapi hanya terfokus pada isu lokal. Sementara untuk isu Covid-19 secara nasional, dirinya mengaku belum sempat membahas.
“Kita memang mengkaji Covid, tapi lebih fokus ke Sumenep,” terangnya pada media ini.
Saat dikonfirmasi soal pernyataan sikap yang akan diambil PC PMII Sumenep, jika ternyata PB PMII benar-benar akan mendesak Presiden Joko Widodo mundur dari jabatannya, menurut Qudsi masih akan dilakukan kajian perihal kepentingan yang diusung oleh PB PMII.
“Sampai saat ini kita masih mengkaji, jadi belum bisa menentukan sikap secara jelas, intinya kita masih nunggu kejelasan dari PB PMII. Sekalipun dari PB PMII sudah satu suara kita juga harus mengkajinya terlebih dahulu, arahnya kemana dan di balik ini kepentingannya seperti apa. Maka setelah kondisinya ketahuan, baru kita bisa menentukan sikap,” tegasnya.
Terpisah, sempat beredar berita di media sosial tentang pernyataan Ketua PC PMII se Madura yang mendukung PB PMII untuk mendesak Presiden Joko Widodo mundur dari jabatan kepresidenan. Mengenai itu, Qudsiyanto mengaku bahwa hal tersebut hanya pernyataan umum, bahkan dia pun tidak berkenan menyebarluaskannya.
“Untuk di media yang sempat mengangkat pernyataan Ketua PC PMII se Madura itu, kami tidak mau viralkan, karena kita belum tahu pasti. Sedangkan narasi yang kami buat sama tim advokasi itu, hanya tanggapan secara umum. Intinya kita no coment dulu,” pungkasnya.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.