Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menuturkan bahwa, “Rasulullah menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya kusut, kemudian mengangkat tangannya dan mengatakan, “Wahai Rabb-Ku, Wahai Rabb-Ku, sedangkan mekanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, perutnya diisi dengan sesuatu yang haram, maka bagaimana Kami (Allah) mengabulkan doanya.”
Ketiga, rezeki yang didapatkan mengantarkan manusia pada kemudahan melakukan amal shaleh, seperti shadaqah dan zakat. Di dalam rezeki yang berkah terdapat banyak kebaikan.
Kebaikan tersebut seperti memudahkan kita untuk bershadaqah, berzakat, membantu orang lain yang membutuhkan, mudah dalam menerima dan mengamalkan ilmu yang bermanfaat serta lancar dalam segala urusan.
Keempat, rezeki yang didapatkan senantiasa membuat kita merasa cukup dan bersyukur. Berbeda dengan rezeki yang diperoleh kita dengan cara haram akan membuat kita selalu merasa kurang dan semakin tamak dalam menumpuk harta.
Jika kita memiliki penghasilan kecil namun kita selalu bersyukur, maka Allah S.W.T., akan menjadikan hati kita lapang, tidak merasa kurang, dan selalu tercukupi.
Sebaliknya, harta yang tidak berkah akan mendatangkan ketidaknyamanan pada kita. Kita merasa kurang puas pada harta yang dimiliki. Hal ini karena harta kita tidak memberikan manfaat sedikitpun, baik di dunia maupun di akhirat, dan kelak akan mengantarkan kita ke neraka jahanam.
Harta merupakan amanah dari Allah S.W.T., dan kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah S.W.T.
Oleh karena itu, marilah kita renungkan darimanakah harta yang kita dapatkan? Apakah dengan cara yang halal ataukah dengan cara yang haram?
Di dalam Al-Qur ‘an surat Al-Mulk (Kerajaan) ayat ke-2, Allah S.W.T., berfirman, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalannya….”
