Tokoh  

Abdul Karim Oei Tjeng Hien, Pendiri PITI

Bangkalan – Abdul Karim Oei Tjeng Hien dikenal sebagai salah satu pendiri PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Selain itu, dia merupakan salah satu tokoh Muslim-Tionghoa, Muhammadiyah, Masyumi di Bengkulu, organisasi Tanah Air Sendiri (TAS), dan pejuang kemerdekaan negara Republik Indonesia.

Abdul Karim Oei Tjeng Hien lahir di Padang—versi lain menyebutkan di Padang Panjang—Sumatera Barat, Hindia Belanda, pada hari Selasa, 6 Juni 1905. Nama kecilnya adalah Oei Tjeng Hien. Dia wafat di Jakarta, Indonesia, pada hari Minggu, 16 Oktober 1988, pada usia 83 tahun. Jenazahnya dimakamkan di TPU (Tempat Pemakaman Umum) Tanah Kusir Jakarta.

Orang tuanya (bapak-ibunya) pedagang yang tekun dan berdedikasi. Mereka berasal dari Fujian (Hokkien), Tiongkok Selatan, yang pindah ke Hindia Belanda pada pertengahan abad ke-19.

Pendidikan formalnya yang pernah dia tempuh adalah Hollandsch-Chineeche School (HCS). Sekolah ini merupakan sekolah dasar Belanda khusus anak-anak Tionghoa. Selain itu, dia juga mengenyam pendidikan vokasional, yakni kursus pedagang.

Sekitar umur 20 tahun, tepatnya tahun 1926, Oei Tjeng Hien memeluk agama Islam. Setelah masuk Islam, dia diberi nama Islam “Abdul Karim” oleh gurunya Syekh Abdul Karim Amrullah, bapak Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka). Dengan nama Islam tersebut, nama lengkapnya kemudian berubah menjadi Abdul Karim Oei Tjeng Hien.

BACA JUGA:  Abbas Ibn Firnas, Polymath Insinyur Penemu

Dia bersama dengan tokoh muslim Tionghoa, Abdussomad Yap A Siong dan Kho Goan Tjin mendirikan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) di Jakarta, pada hari Jumat, 14 April 1961. Organisasi ini merupakan gabungan dari dua organisasi: (1) Persatuan Islam Tionghoa (PIT) di Medan, pimpinan Abdussomad Yap A Siong, dan (2) Persatuan Tionghoa Muslim (PTM) di Bengkulu, pimpinan Kho Goan Tjin.

Tujuan berdirinya organisasi ini adalah untuk mempersatukan: (1) muslim Indonesia dengan muslim keturunan Tionghoa, (2) muslim keturunan Tionghoa dengan dengan etnis Tionghoa, dan (3) umat Islam dengan etnis Tionghoa.

Namun, karena tekanan rezim Orde Baru (Orba), Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) mengubah namanya menjadi Pembina Iman Tauhid Islam (PITI), pada hari Jumat, 15 Desember 1972. Tapi perubahan ini tidak menyurutkan dan mengurangi daya dan nilai perjuangan organisasi PITI. Pada bulan Mei 2000 di era Pemerintahan Gus Dur, melalui rapat pimpinan organisasi tersebut menetapkan kepanjangan PITI dikembalikan pada Persatuan Islam Tionghoa Indonesia.

Untuk mengenang jasa-jasanya sejumlah organisasi Islam dan beberapa tokoh muslim Tionghoa mendirikan Yayasan Haji Karim Oei tahun 1991. Yayasan ini kemudian mendirikan dan mengelola masjid-masjid muslim Tionghoa di Indonesia, seperti Masjid Lautze di Pecinan, Jakarta. Selain itu, dia juga menerima Bintang Mahaputera Utama dari Pemerintah Republik Indonesia pada hari Selasa, 9 Agustus 2005. Penghargaan ini ditetapkan pemerintah berdasarkan Keppres Nomor 056/TK/TH. 2005, Tanggal 9-8-2005.

BACA JUGA:  Ibn al-Haytham: Ilmuan Sederhana dan Bapak Optik Modern

 

Tinggalkan Balasan