Dari sisi pendidikan, mayoritas angkatan kerja hanya tamat Sekolah Dasar—sebanyak 361.390 orang atau 64,3%. Ini menunjukkan bahwa bekerja tak selalu membutuhkan ijazah tinggi, meski dampaknya jelas terasa.
Lulusan SMP mencapai 83.334 orang atau 14,8%, dan lulusan SMA sebanyak 76.954 orang atau 13,7%. Keduanya menopang sektor kerja menengah, meski tak cukup kuat untuk mengubah struktur.
Lulusan perguruan tinggi hanya 25.136 orang, atau sekitar 4,4%. Sebuah ironi di tengah era digital, di mana gelar tak selalu memberi jaminan kerja—apalagi di daerah.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa struktur angkatan kerja Sampang masih padat di sektor informal, dengan mayoritas berpendidikan rendah. Pekerjaan memang banyak, tapi jenisnya belum tentu membawa kesejahteraan.
Ketergantungan pada kerja keluarga dan usaha mandiri tanpa perlindungan menjadi catatan penting. Potensi besar angkatan kerja justru berjalan tanpa basis pendidikan yang memadai.
Maka meski angka angkatan kerja tampak tinggi, kualitasnya masih jadi tantangan. Sampang tidak kekurangan tenaga kerja, tapi kekurangan ruang dan kesempatan untuk mengembangkan daya kerja yang benar-benar berdaya.
