Lebih parah lagi, e-book ilegal kini banyak beredar di internet dan media sosial. E-book tersebut dibagikan secara gratis melalui berbagai tautan yang, meskipun diblokir, akan muncul kembali dalam jumlah lebih banyak. Penyebar e-book ilegal sering menganggap tindakan mereka sebagai kebaikan. Sementara itu, para pembaca e-book ilegal menganggap mereka sebagai pahlawan karena mempermudah akses membaca tanpa biaya.
Tindakan kriminal ini tidak akan terjadi jika kesuksesan pembajak buku dan penyebar e-book ilegal tidak didukung oleh para pembeli dan pengguna produk bajakan. Mereka tidak merasa bersalah atas tindakan mereka, meskipun hanya menguntungkan pihak pembajak. Mereka hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli pada nasib penulis yang berjuang keras dalam proses kreatifnya. Bagaimana jika para penulis berhenti menulis?
Padahal, menulis adalah proses yang sangat sulit. Menurut Makhfud Ikhwan, sebuah ide atau banyak ide tidak pernah cukup untuk menghasilkan tulisan. Ide harus dikelola melalui proses panjang dan melelahkan agar menjadi karya yang dapat dinikmati pembaca.
Jika pembajakan terus berlanjut, para penulis mungkin akan berhenti menulis. Saat itu terjadi, industri buku dalam negeri akan mati, dan tidak akan ada lagi buku yang bisa dibaca, apalagi dicuri oleh pembajak.
Meski begitu, saya masih sering menemukan seseorang yang membaca buku asli (meskipun lebih sering melihat yang membaca buku bajakan). Ketika saya bertanya dari mana ia mendapatkan buku itu, ia menjawab bahwa ia meminjamnya dari perpustakaan.
Awalnya, saya mengira ia membeli buku tersebut dengan menabung atau patungan dengan temannya. Tak ada yang salah dari jawabannya, bahkan saya mendapatkan wawasan baru bahwa ada banyak cara untuk membaca buku tanpa harus melakukan tindakan kriminal yang berdampak buruk pada industri buku dan literasi di masa depan.
Setelah mengetahui dampak buruk buku bajakan terhadap industri literasi, apakah pembaca akan berhenti membaca buku bajakan atau tetap melakukannya? Bagi sebagian orang yang keras kepala dan tidak peduli, mereka mungkin akan menyalahkan aparat penegak hukum atau mencari alasan untuk membenarkan tindakan mereka. Namun, bagi mereka yang memiliki rasa tanggung jawab dan peduli pada masa depan literasi, mereka akan mendukung penulis dengan memilih membeli atau membaca buku asli.
***Achmad Bahrus Sholeh, Pelajar Siswa Madrasah Aliyah 1 Annuqayah
