Lebih lanjut, dirinya mengungkapkan beberapa persoalan yang terjadi akhir-akhir ini, menjadi tanggung jawab bersama utamanya para pendidik untuk menghentikan perilaku tidak baik.
“Belakangan ini sering terjadi tawuran antar pelajar, perilaku perundungan hingga pelecehan seksual yang miris sekali, karena korbannya siswa dan pelakunya guru,” paparnya.
Untuk itu, Fairusi mengajak seluruh elemen bergandengan tangan, karena di Kabupaten Sumenep sendiri ada PGRI, PERGUNU, IGI dan organisasi profesi lainnya, serta komunitas pendidikan. Karena, dengan bersatu akan menguatkan untuk mengurangi sedikit demi sedikit hingga tidak ada lagi perilaku yang tidak baik terjadi.
“Figur dan contoh tauladan dari para guru, kepala sekolah dan pengawas tentunya diharapkan, dapat berdampak meningkatkan etika dan moral generasi mendatang lebih baik lagi,” imbuhnya.
Sementara Repelita Tambunan, Gender Officer Inovasi Indonesia di Jakarta yang memang memiliki basic studi tentang gender di salah satu university di Thailand hingga kemudian bergabung di Tim Inovasi sejak akhir 2020 lalu, mengakui Pelatihan Sekolah Responsif Gender bagi Fasilitator IGI Sumenep penting dilakukan, karena guru itu sendiri merupakan sumber ilmu dan sebagai sekolah responsif gender ketika ditanya tentu perlu menjelaskan.
“Kaitannya dengan sekolah responsif gender inklusif tidak melihat laki-laki atau perempuan, tapi semua anak bagaimana mendapat akses pendidikan yang sama,” ujar pengembang modul Pelatihan Sekolah Responsif Gender ini.
