Umum  

Lembaga Cegah Radikalisme dan Terorisme PB PMII Resmi Dilaunching

LAUNCHING
Melalui online atau Zoom Meeting secara resmi Launching LCRT PB PMII dan sekaligus memperingatan Hari Pahlawan 10 November 2021

Jakarta – Melalui online atau Zoom Meeting, Lembaga Cegah Radikalisme dan Terorisme Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (LCRT PB PMII) secara resmi dilaunching sekaligus memperingati Hari Pahlawah 10 November, ”Pemuda Bangkit, Tanpa Intoleransi” Pada Hari Rabu, 10 November 2021.

Selain napak tilas dedikasi dan perjuangan para pahlawan, LCRT bermaksud memberitahukan kepada khalayak luas tentang usaha LCRT PB PMII dalam rangka menjaga dan merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Acara launching dan peringatan hari pahlan tersebut mendapat banyak dukungan dan semangat, salah satunya dukungan tersebut dengan adanya karangan bunga yang diberikan oleh, Kepala BPIP RI, Prof. Drs. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D, dan uacapan-ucapan lain yang diberikan melalu WA kepada pengurus LCRT PB PMII. Kegiatan dengan kemasan Webinar ini berlangsung dari pukul 13.00 sampai dengan 15.30 WIB. (Aal_LCRT-PB PMII)

Pada kesempatan Launching, LCRT mengundang dan melibatkan sejumlah pihak yang terdiri dari, BPIP, BIN, Intelkam Polri, BNPT, Komisi III DPR RI, dan PKC, PC, PK dan PR PMII dan lain sebagainnya.

BACA JUGA:  Direktur Lembaga Jurnalistik PB PMII Apresiasi Peran Pers di Hari Pers Nasional 2022

Kabul Doniyanto, Direktur LCRT PB PMII, menegaskan kesiapan sumber daya manusia PMII di setiap level kepengurusan dalam melakukan kontra terorisme dan radikalisme. Karena, kelembagaan strategis ini diharapkan mampu memberikan menguatkan agenda pemerintah dalam pencegahan bidang kejahatan radikalisme dan terorisme yang sudah masuk dalam kategeri extra ordinary crime (kejahatan luar biasa).

“Jaringan internal PMII hampir di setiap provinsi kabupaten/kota serta kampus di seluruh Indonesia ada anggota dan kader PMII-nya,” tuturnya, Kamis, (11/11/2021).

Sumber daya yang besar dan terstruktur tersebut, tentu tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maun non pemerintah.

“Sinergi PMII dengan instansi pemerintah dalam isu ini akan semakin memperkokoh kesiapsiagaan nasional menuju Indonesia Emas, 2045,” ujar, pria hebat asal Demak itu.

Anggota Pengurus Lembaga Cegah Radikalisme dan Terorisme Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia

Sebagai sayap PB PMII, sambung ketua umum PB PMII Abdullah Syukri saat memberikan sambutannya, keberadaan LCRT bisa semakin kongkrit dan maksimal bagi kebaikan bangsa Indonesia di setiap lini kehidupan bebrbangsa dan bernegara.

“PMII berusaha hadir mewarnai atau bahkan memimpin jalannya perubahan di setiap sendi-sendi kehidupan negara berasaskan Pancasila”, tukasnya

BACA JUGA:  Hadiri Acara Instanbul Youth Summit, PB PMII Dorong Partisipasi Pemuda dalam Perubahan di Tingkat Global

Gus Abi, mengajak kepada stakeholder yang memiliki konsentrasi yang sama agar bersedia membimbing dan mengarahkan LCRT berjalan dan bergerak sebagaiman mandat yang semestinya.

“Agar LCRT ini bisa tetap eksis dan dan semakin berkembang kedepannya, kami butuh dorongan dan arahan kepada stakeholder pemerintahan untuk lebih baik,” pungkasnya, sembari mengakhiri sambutannya.

Sementara, Romo Benny Susetyo, Stafsus Dewan Pengarah BPIP RI, selain menekan pentingnya menjadikan Pancasila sebagai Ideologi Hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ia juga menekankan penting sahabat-sahabat PMII merebut wacana di tataran media sosial dan dan transformasi teknologi.

“Merasa benar sendiri ini merupakan persoalan cukup serius dalam negara yang telah sepakat tanpa membedakan SARA”, tegas beliau di sela-sela pemaparan materi secara virtual melalui zoom meeting.

Romo Benny, berharap PMII dapat memainkan peran intelektualnya dalam wilayah kampus dan informasi secara kebih konsisten. Beliau mengaku menguatnya politik identitas pasca peralihan kepemimpinan Gubernur DKI beberapa tahun lalu. Dirinya mengkritisi sejumah istilah politik yang dipaksakan dalam memaknai keragaman.

BACA JUGA:  Sebanyak 154 SD di Sumenep Tidak Memiliki Kepala Sekolah

“Sampai Hari ini politik dipaksa dalam memaknai keragaman, semisal istilah kelompok mayoritas dan minoritas yang terus digoreng,” pungkasnya.

Penulis: Jhone
Editor: Ady

Tinggalkan Balasan