“Keberhasilan santri dalam membaca dan memahami kitab kuning menjadi salah satu tolak ukur utama dalam pendidikan pesantren,” tambahnya.
Edi berharap, MQK dapat memotivasi santri untuk terus meningkatkan kemampuan membaca, memahami, dan menggali makna kitab kuning dalam proses pembelajaran mereka.
“Kitab kuning harus dikaji secara mendalam sebagai solusi atas beragam masalah kompleks yang dihadapi masyarakat saat ini,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Edi menegaskan bahwa MQK bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan juga sebagai sarana mempererat silaturahmi antar pondok pesantren di Kabupaten Sumenep.
“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada panitia serta semua pihak yang telah mendukung kesuksesan acara ini,” pungkasnya.
