Tiongkok tetap menjadi tujuan ekspor utama dengan nilai US$4,29 miliar. Amerika Serikat dan India menyusul dengan US$2,35 miliar dan US$1,65 miliar.
Sementara itu, impor nonmigas terbesar berasal dari Tiongkok dengan US$6,05 miliar. Jepang dan Thailand berada di posisi berikutnya dengan US$1,26 miliar dan US$0,87 miliar.
Golongan barang impor yang mengalami peningkatan tertinggi adalah logam mulia dan perhiasan/permata, naik 110,26 persen. Sebaliknya, mesin/peralatan mekanis turun 4,47 persen.
Provinsi dengan kontribusi ekspor terbesar adalah Jawa Barat, mencapai US$6,23 miliar. Jawa Timur dan Kepulauan Riau menyusul dengan US$4,07 miliar dan US$3,85 miliar.
Dari sisi impor, bahan baku/penolong mendominasi dengan kontribusi 73,14 persen. Barang modal menyumbang 18,40 persen, sementara barang konsumsi hanya 8,46 persen.
Jika tren ini berlanjut, Indonesia berpotensi mempertahankan surplus perdagangan. Penguatan ekspor sektor industri dan pertanian menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan.
Pemerintah perlu terus mendorong ekspor produk bernilai tambah tinggi. Di sisi lain, efisiensi impor harus diperhatikan agar defisit migas tidak menggerus surplus perdagangan.
