Ketiga, interlokutor sebagai lawan bicara menjawab pertanyaan ikuisitor dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara). Keempat, elenchus, teknik utama dialog antara guru dan murid, yang bisa menerima dan merevisi hipotesis. Jika hipotesis lolos uji (diterima) elenchus, maka hipotesis dapat berlaku/diterima dan tahap berikutnya dapat dimulai. Jika hipotesis tidak lolos uji (ditolak) elenchus, maka hipotesis direvisi dan elenchus dimulai dari hipotesis baru.
Kelima, siswa bertindak/menerapkan pelajaran sesuai hasil dialog (aksiologi pelajaran) dalam kehidupannya, dengan demikian siswa diminta merevisi pengetahuan/keyakinan sebelumnya tentang hakekat hal-hal kehidupan.
Dalam dialog ini, ikuisitor harus menyadari empat sifat. Keempat sifat ini adalah, pertama, kerendahan hati untuk merevisi kesalahan berpikir ikuisitor. Kedua, ketidaktahuan pada setiap bidang kehidupan sehingga partisipasi (hipotesis) interlokutor sangat diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut.
Ketiga, elenchus dilakukan secara menyenangkan dan kerja keras. Keempat, ikuisitor harus memiliki rasa ingin tahu yang mendalam dan keinginan memperbaiki diri melalui elenchus.
Pemikiran filsafat Sokrates tersebut banyak disukai oleh para pemuda Athena, Yunani, kala itu. Bahkan pendapat/nasehat Sokrates lebih diikuti para pemuda Athena dari pada pendapat/nasehat orang tuanya.
Diantara pemuda tersebut, terdapat murid setia Skorates. Murid setia tersebut yang populer di kajian filsafat adalah Plato (filsuf Yunan kuno), Xenophon (sejarawan), Antisthenes (filsuf pendiri aliran/mazhab Sinis), dan Aristippos (filsuf pendiri aliran/mazhab hedonis/kirene).
Fenemona inilah kemudian melahirkan petaka besar pada diri Sokrates. Dia dituduh merusak pikiran para pemuda Athena dan tidak hormat kepada para dewa yang diyakini masyarakat Yunani.
Oleh karena tuduhan tersebut, dia digugat ke pengadilan Athena, Yunani. Pada periode tersebut, keputusan pengadilan di Athena, Yunani, dilakukan melalui voting.
Dalam voting tersebut, dari 500 orang 56,00% (280 orang) mendukung hukuman mati kepada Sokrates dan 44,00% (220 orang) menolak Sokrates bersalah. Dengan hasil keputusan pengadilan tersebut, akhirnya Sokrates dijatuhi hukuman mati dengan cara minum racun di depan algojo pengadilan Athena, Yunani.
