Tokoh  

Sokrates Sang Guru Filsuf

Foto Sokrates (sumber: greatkat.com).

Sokrates (Yunani: Sŏkratēs) merupakan salah satu guru filsuf paling berpengaruh di zaman Yunani Kuno. Dia termasuk salah satu seorang filsuf penting yang mempengaruhi filsafat Barat.

Sokrates (Inggris: Socrates) adalah anak dari pasangan suami-istri Sophroniscus-Phaenarete. Profesi ayahnya (Sophroniscus) adalah tukang batu (pemahat patung/pematung) dan profesi ibunya (Phaenarete) adalah seorang bidan.

Sokrates lahir dari suku Antiokhia pada 470 s.M (sebelum Masehi) di Alopece, Athena, Yunani, dan meninggal dunia pada 399 s.M., di usia 71 tahun di Athena, Yunani. Kematian karena minum hemlock (racun) hasil keputusan pengadilan di Athena, Yunani.

Sokrates bukan berasal dari keluarga bangsawan, sehingga pendidikan yang diperolehnya diasumsikan oleh pelbagai kalangan dari ayahnya sebagai pematung. Banyak kalangan meyakini patung-patung Charites di dekat Acropolis, Yunani, dibuat olehnya. Namun, para ilmuan modern banyak yang meragukan pandangan tersebut.

Namun demikian, Sokrates merupakan sosok guru filsafat terkenal pertama di Yunani kuno, sebelum Plato dan Aristoteles. Meski, dikenal sebagai sosok guru filsafat klasik, dia tidak meninggalkan karya tulis apapun.

Sokrates merupakan pribadi yang unik, yang haus pengetahuan. Dia pernah belajar retorika pada Apasia, istri berbakat dari pemimpin besar Athena, Pericles.

BACA JUGA:  Al Khawarizmi, Bapak Matematika Dunia

Meski tidak meninggalkan karya tulis satupun, pemikiran Sokrates memberikan sumbangan besar pada ilmu pengetahuan. Pemikiran tersebut dikenal dengan “Metode Sokrates”.

Metode ini diperkenalkan Sokrates karena keprihatinannya pada kehidupan manusia yang tidak mengetahui kebenaran, keadilan, dan kehidupan manusia. Metode ini diorientasikan olehnya untuk mengembangkan kemampuan bernalar rasional manusia agar bisa mengetahui kebenaran, keadilan, dan kehidupan manusia.

Metode ini dapat disebut dengan metode “dialektika (Yunani: dialektos)”. Dialektika Sokrates ini membawa manusia kepada hakekat hal-hal (semua kehidupan manusia) melalui penjelasan konsep secara bertahap. Dialektika ini berlangsung (medianya) dalam bentuk dialog antara dua orang yang dilakukan secara bijaksana dan terfokus.

Dialog ini berbentuk “dialog argumentatif kooperatif” yang disebut elenchus. Ilustrasi praktek elenchus ini: pertama, dimulai dari rasa ingin tahu (disebut keajaiban) sehingga memunculkan eksplorasi intelektual dalam bentuk pertanyaan. Kedua, ikuisitor (guru) sebagai pembicara mengajukan pertanyaan kepada interlokutor (murid/siswa).

Ketiga, interlokutor sebagai lawan bicara menjawab pertanyaan ikuisitor dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara). Keempat, elenchus, teknik utama dialog antara guru dan murid, yang bisa menerima dan merevisi hipotesis. Jika hipotesis lolos uji (diterima) elenchus, maka hipotesis dapat berlaku/diterima dan tahap berikutnya dapat dimulai. Jika hipotesis tidak lolos uji (ditolak) elenchus, maka hipotesis direvisi dan elenchus dimulai dari hipotesis baru.

BACA JUGA:  Ibn al-Haytham: Ilmuan Sederhana dan Bapak Optik Modern

Kelima, siswa bertindak/menerapkan pelajaran sesuai hasil dialog (aksiologi pelajaran) dalam kehidupannya, dengan demikian siswa diminta merevisi pengetahuan/keyakinan sebelumnya tentang hakekat hal-hal kehidupan.

Dalam dialog ini, ikuisitor harus menyadari empat sifat. Keempat sifat ini adalah, pertama, kerendahan hati untuk merevisi kesalahan berpikir ikuisitor. Kedua, ketidaktahuan pada setiap bidang kehidupan sehingga partisipasi (hipotesis) interlokutor sangat diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut.

Ketiga, elenchus dilakukan secara menyenangkan dan kerja keras. Keempat, ikuisitor harus memiliki rasa ingin tahu yang mendalam dan keinginan memperbaiki diri melalui elenchus.

Pemikiran filsafat Sokrates tersebut banyak disukai oleh para pemuda Athena, Yunani, kala itu. Bahkan pendapat/nasehat Sokrates lebih diikuti para pemuda Athena dari pada pendapat/nasehat orang tuanya.

Diantara pemuda tersebut, terdapat murid setia Skorates. Murid setia tersebut yang populer di kajian filsafat adalah Plato (filsuf Yunan kuno), Xenophon (sejarawan), Antisthenes (filsuf pendiri aliran/mazhab Sinis), dan Aristippos (filsuf pendiri aliran/mazhab hedonis/kirene).

Fenemona inilah kemudian melahirkan petaka besar pada diri Sokrates. Dia dituduh merusak pikiran para pemuda Athena dan tidak hormat kepada para dewa yang diyakini masyarakat Yunani.

BACA JUGA:  Sukarno dan Keindahan Perempuan

Oleh karena tuduhan tersebut, dia digugat ke pengadilan Athena, Yunani. Pada periode tersebut, keputusan pengadilan di Athena, Yunani, dilakukan melalui voting.

Dalam voting tersebut, dari 500 orang 56,00% (280 orang) mendukung hukuman mati kepada Sokrates dan 44,00% (220 orang) menolak Sokrates bersalah. Dengan hasil keputusan pengadilan tersebut, akhirnya Sokrates dijatuhi hukuman mati dengan cara minum racun di depan algojo pengadilan Athena, Yunani.

Tinggalkan Balasan