Sebagai sorang jenderal militer, Sun Tzu sangat disiplin dan tegas serta memiliki pemikiran berilian dalam strategi militer. Terbukti, ketika dia menjadi komandan utama Kerajaan Wu saat terjadi pertempuran antara Kerajaan Wu dan Kerajaan Chu pada tahu 506 SM, Kerajaan Wu mengalahkan Kerajaan Chu.
Filsafat Sun Tzu beraliran pemikiran militer, yang lebih mengedepankan kesiapan dan kesigapan militer dalam menjaga perdamaian dan ketertiban sosial. Aliran ini berkembang pada periode Musim Semi dan Gugur 772-476 SM, dan merupakan bagian dari salah satu cabang utama filsafat Tiongkok kuno yang disebut “Seratus Aliran Pemikiran (Hundred Schools of Thought)”.
Karya magnum opusnya tersebut memiliki pengaruh yang kuat terhadap tokoh politik dan filosuf Barat dan Asia Timur dalam hal strategi militer. Tokoh politik yang terinspirasi karya Sun Tzu ini antara lain: Mao Zedong (revolusioner Komunis China), Vo Nguyen Giap (Jenderal Vietnam), Takeda Shingen (Daimyo Jepang), dan Norman Schwarzkopf Jr. (Jenderal Amerika Serikat).
Strategi militer Sun Tzu menekankan atau fokus pada alternatif pertempuran, penggunaan mata-mata (operasi intelijen/spionase), membangun aliansi dengan sekutu, menggunakan tipu daya, siasat, dan kesediaan untuk sementara tunduk pada musuh yang kuat.
