Kedua, mengingat Allah (berdzikir) ketika datang perintah dari-Nya, maka langsung melaksanakan perintah tersebut. Dan ketika ada larangan-Nya segera menjauhinya dan menghindarinya.
Ketiga, dzikir (mengingat dan menyebut) nikmat Allah. Dzikir ini termasuk dzikir yang paling agung, yang memiliki tiga tingkatan. Ketiga tingkatan tersebut adalah, pertama, Dzikir dengan menggunakan hati dan lidah. Ini merupakan tingkat dzikir yang paling tinggi.
Kedua, dzikir dengan menggunakan hati saja. Ini merupakan tingkat yang kedua. Ketiga, dzikir dengan menggunakan lisan saja (berdzikir dengan lidah). Dzikir ini menduduki tingkat ketiga.
Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani menjelaskan, bahwa dzikir tersebut memiliki tiga tingkatan. Ketiga tingkatan itu adalah: pertama, dzikir zhahir, yaitu pujian kepada Allah, dzikir yang mengandung doa, dan berdzikir dengan memohon perlindungan Allah.
Kedua, dzikir hati, yaitu dzikir yang menggunakan hati, agar terhindar dari sifat lalai dan lupa yang merupakan penghalang antara Tuhan dan hati manusia, keharusan hati untuk menghadirkan Allah menjadikannya seolah-olah melihat Allah.
Ketiga, dzikir hakiki, yaitu dzikir Allah terhadap hamba-Nya. Sesuai dengan firman Allah S.W.T: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Q.S. al-Baqarah: 152)
