Ia mendesak pemkab tidak hanya mengandalkan vaksinasi massal, tetapi juga memperkuat deteksi dini, edukasi kesehatan, hingga layanan langsung ke masyarakat.
“Campak ini penyakit yang bisa dicegah lewat imunisasi. Kalau masih ada ratusan kasus, berarti edukasi gagal dan layanan kesehatan tidak maksimal. Pemerintah harus berani mengevaluasi kinerja dinas, bukan sekadar menyalahkan masyarakat,” tandasnya.
Sebelumnya, pihak Dinas Kesehatan mengakui sebagian besar kasus kematian terjadi pada anak yang tidak pernah mendapatkan imunisasi campak, bahkan ada yang sama sekali tidak memperoleh imunisasi dasar sejak lahir (zero dose).
“Mayoritas anak yang meninggal memang tidak pernah diimunisasi, ada yang sejak lahir hingga usia sembilan bulan tidak tersentuh imunisasi sama sekali. Akibatnya komplikasi jadi parah,” jelas Kepala Bidang P2 Dinas Kesehatan P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri.
Menurutnya, imunisasi campak seharusnya diberikan saat bayi berusia sembilan bulan.
“Namun rendahnya kesadaran masyarakat ditambah lemahnya cakupan imunisasi membuat campak kembali merebak,” tandasnya.
