Tim pengabdian kepada Masyarakat mendapat pembiayaan dari Direktorat Riset, Teknologi, Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Pendidikan Tinggi di tahun 2024. Di dalam tim ini ada dosen bidang ilmu Holtikultura, yaitu Dr. Agr. Eko Setiawan, S.P., M.Si., dan dosen bidang ilmu Ke-PAUD-an, yaitu Fajar Luqman Tri Ariyanto, S.Pd., M.Pd.
Kegiatan ini juga berkolaborasi dengan dosen bidang ilmu pangan, yaitu Prof. Umi Purwandari, Ph.D., untuk membantu mewujudkan kantin yang sehat. Selain melibatkan dosen, kegiatan ini juga melibatkan beberapa mahasiswa, yakni Vera Aprilia Pratiwi, Lailatul Nuzula Ramadhani, Novi Supriliyanti, dan Shintia Shepti Hariani.
Kegiatan yang dilakukan meliputi sosialisasi sekolah berwawasan lingkungan dengan kurikulum berbasis lingkungan, sosialisasi implementasi Kurikulum Merdeka, pelatihan peningkatan kompetensi pedagogik dan profesional guru dengan mengembangkan silabus dan modul ajar berwawasan lingkungan dengan berbasis sistem pertanian “taneyan lanjang”.
Setelah dilakukan sosialisasi dan pelatihan, dilakukan pendampingan dalam mengimplementasikan modul ajar yang telah dikembangkan dengan memanfaatkan educational laboratory. Educational laboratory ini berupa kebun dan fasilitas pendukung kearifan lokal berbasis pertanian dengan sistem pola tanam taneyan lanjang.
Puncak dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah adanya kegiatan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Kegiatan tersebut melibatkan anak-anak RA Bakti Telang dengan membuat kompos bersama Tim Pengabdi, menanam, mengamati proses tumbuh tanaman hingga melakukan panen dari hasil kebun yang telah ditanam.
Penerapan sistem pertanian “taneyan lanjang” di lingkungan sekolah membawa banyak manfaat jangka panjang. Selain menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan sehat, program ini juga mendidik generasi muda tentang pentingnya pertanian berkelanjutan dan kelestarian lingkungan. Siswa yang terlibat dalam program ini akan memiliki kesadaran yang lebih tinggi tentang isu-isu lingkungan dan kemampuan untuk menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Secara tidak langsung, sekolah yang mengadopsi konsep ini juga berkontribusi pada pelestarian budaya lokal. Mengintegrasikan kearifan lokal dalam pendidikan memberikan identitas yang kuat pada siswa, memperkuat rasa cinta tanah air, dan mendorong pelestarian tradisi yang berharga.
