Budaya  

Mitologi: Antara Warisan dan Realitas

Madurapers
Mashuri, sarjana Filsafat alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Mashuri, sarjana Filsafat alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta (Dok. Madurapers, 2025).

Simbol-simbol alam seperti gunung dan air juga memiliki tempat istimewa dalam mitologi Jawa. “Menghormati alam itu baik, tapi jika hanya dibungkus mitos tanpa tindakan nyata untuk kelestariannya, maka itu hanya romantisme belaka,” jelas Mashuri.

Ia juga menyinggung ritual yang berakar pada mitologi, seperti upacara panen dan pernikahan adat. “Tradisi ini penting, tapi jika dilakukan tanpa pemahaman, hanya menjadi formalitas tanpa makna,” katanya.

Mashuri mengajak masyarakat untuk tidak sekadar menerima mitologi sebagai kebenaran mutlak. “Kita harus berani mempertanyakan, mengkritisi, dan menyesuaikan warisan budaya ini agar lebih relevan dengan kondisi saat ini,” tegasnya.

Menurutnya, keberagaman mitologi Jawa harus dilihat sebagai bagian dari sejarah pemikiran masyarakat, bukan sebagai sesuatu yang sakral. “Mitos-mitos ini lahir dari kebutuhan zaman dulu, dan belum tentu cocok dengan zaman sekarang,” ujarnya.

Dengan pendekatan kritis, Mashuri berharap masyarakat bisa memilah mana nilai yang masih relevan dan mana yang perlu ditinggalkan. “Budaya harus berkembang, bukan membelenggu,” pungkasnya.