Pemkab Sumenep Imbau Masyarakat Paham Resiko Kehamilan dan Kesehatan Reproduksi

Wakil Bupati (Wabup) Sumenep, Dewi Khalifah. (Sumber Foto: Fauzi)

Sumenep – Kehamilan merupakan hal yang sangat membahagiakan setiap orang, terutama bagi Pasangan Suami Istri (Pasutri). Hasil yang diharapkan dari kehamilan yang baik adalah ibu dan bayi yang sehat. Namun, ada kondisi tertentu yang sebelum dan selama masa kehamilan dapat meningkatkan risiko bagi kesehatan ibu dan bayi. Untuk itu penting bagi seorang ibu menjaga kesehatan reproduksi dalam masa kehamilan dan proses persalinan agar ibu dan bayi bisa selamat sampai melahirkan.

Disisi lain dapat membantu meningkatkan angka harapan hidup di Indonesia serta membantu Indonesia untuk menekan angka kematian ibu, kematian bayi, dan mencegah stunting atau gizi buruk.

Atas dasar itulah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait resiko kehamilan dan kesehatan reproduksi bagi Ibu Hamil (Bumil).

Wakil Bupati (Wabup) Sumenep, Dewi Khalifah kepada jurnalis madurapers.com mengatakan, sosialisasi pengetahuan bagi Bumil ini dilakukan sebagai antisipasi terkait resiko kehamilan dan kesehatan reproduksi.

“Masyarakat harus tahu tentang resiko kehamilan dan kesehatan reproduksi, utamanya ibu hamil. Kami akan sosialisasikan ini dengan masif kepada masyarakat,” kata Bu Wabup, Senin (20/12/21).

BACA JUGA:  Usut Kapal DBS I dan III, Himpass Sumenep Gruduk Kantor PT. Sumekar

Menurutnya, kesehatan Reproduksi adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecatatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya.

Dalam pelaksanaan sosialisasi ini, lanjut Wabup, akan melibatkan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) yang dianggap memiliki kapasitas dalam dunia medis, serta akan berkoordinasikan dengan organisasi kemasyarakatan yang memiliki basis massa.

“Yang jelas dari pihak kesehatan pasti ada. Sedangkan dari organisasi kemasyarakatan seperti
Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Muslimat, Fatayat, Al-Hidayah, ataupun juga dengan Aisyah dan Nasyiatul Aisyiyah,” rincinya.

Dari berbagai elemen organisasi masyarakat yang anggotanya adalah perempuan ini, dirinya mengaku lebih tepat dan akurat dalam menyampaikan pengetahuan yang penting berkaitan dengan Bumil ini

“Nantinya, mereka tahu tentang resiko kehamilan dan kesehatan reproduksi. Serta usia kehamilannya, kapan akan dilakukan persalinan, dan memeriksakan diri secara rutin ke bidan desa,” jelasnya.

Wabup yang akrab disapa Nyai Efa itu, mengungkapkan banyak dari masyarakat kurang paham tentang kapan mereka akan melahirkan dan tidak bisa memprediksi sebelumnya. Sehingga harus diantisipasi bersama-sama.

BACA JUGA:  Kemenag Sumenep Pastikan Dana Haji Kembali Utuh bagi Pendaftar yang Membatalkan Diri

Selain itu, usia kehamilan di atas 30 tahun sangat berpengaruh, maka sebaiknya bagi bumil sudah mengatur pola jenjang dengan mengikuti seperti program Keluarga Berencana (KB) ataupun juga lakukan deteksi jangan sampai ada penyakit bawaan.

“Kita juga perlu koordinasi dari semua pihak agar hal-hal yang tidak diinginkan seperti tingginya angka kematian ibu hamil dan tingginya angka kematian anak itu bisa kita minimalkan seminimal mungkin,” pintanya.

Nyai Efa berharap bagi Bumil, saat ini tetap rutin melakukan pemeriksaan kepada bidan terdekat. Hal ini agar kandungannya tetap dalam keadaan aman dan lancar hingga proses melahirkan.

Tinggalkan Balasan