Dinas Perikanan Imbau Nelayan Gunakan Alat Tangkap Ramah Lingkungan

Madurapers
Tampak anak kepulauan Sapeken Sumenep asik bermain menggunakan perahu keci di bibir pantai. (Sumber Foto: Istimewa)

“Awalnya mereka gak mau kita bina. Akhirnya mereka sadar dan mau berubah, sehingga para nelayan di Talango pindah menggunakan jaring,” jelasnya.

Menurut Edie, kesadaran itu ada setelah para nelayan merasa hasil tangkapan menggunakan alat yang tidak ramah lingkungan itu perlahan adanya penurunan hasil tangkapan.

“Mereka sering konflik dengan nelayan gapura, di sisi lain pakai bubu sedangkan yang lainnya pakai Sarkak. Setelah mereka sadar dengan cara penangpannya, alhasil tangkapan lebih banyak lagi,” akuinya.

Dirinya berharap semua nelayan berhenti menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Tidak hanya Sarkak, tapi seperti menggunakan potassium dan lain sebagainya.

“Selain alat tangkapnya tidak ramah lingkungan. Kemudian kami temukan mereka sering melanggar jalur,” ungkapnya.

Yang dimaksud melanggar jalur, lanjut Edie, bahwa 1 sampai 3 mil itu milik nelayan tradisional. Artinya alat tangkap yang tidak ditarik alias pasif, seperti jaring, bubu, pancing dan lain sebagainya.

“Kadang mereka melanggar jalur wilayah tangkap nelayan. Seperti Sarkak ini memang gak dilarang tapi mereka melanggar Jalur yang dilakukan dibibir pantai,” bebernya.

Sehingga jika hal tersebut dilakukan, maka akan bentrok masyarakat nelayan tradisional dengan nelayan non-tradisional.