Sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas dan mutu tanaman kakao di Jatim, Heru Susanto menegaskan Disbun Jatim telah memberikan bantuan alat panen dan pasca panen, serta peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) petugas dan petani melalui pelatihan.
“Dengan adanya pelatihan, diharapkan petani dapat meningkatkan ketrampilan dalam berbudidaya serta mengolah biji kakao yang dihasilkan menjadi produk sekunder, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani,” tandasnya.
Kegiatan pengembangan kakao ini sangat diminati masyarakat karena harga komoditi yang dalam lima tahun ini relatif stabil, tidak dikenal musim berbuah serta teknik budidaya kakao yang relatif mudah dan memerlukan naungan sehingga oleh petani banyak ditanam di antara pertanaman yang telah ada sebelumnya.
Harga kakao per kilogram (kg) untuk non fermentasi saat ini menurut Heru Suseno rata-rata berkisar Rp 20.000 – Rp 23.000. Sementara untuk fermentasi berkisar rata-rata Rp 27.000 – 35.000 sesuai dengan grade masing-masing.
“Dengan potensi harga yang cenderung naik, tentunya minat petani mengembangkan komoditas ini semakin bergairah,” katanya.
Ia lantas mengulas secara detail areal tanam dan produksi kakao di Jatim di tahun 2020 yang mana areal tanam kakao di Jatim mencapai seluas 56.895 terdiri dari areal kakao rakyat seluas 40.059 ha, Perkebunan Besar Negara seluas 12.229 ha dan Perkebunan Besar Swasta seluas, 4,607 ha. Sementara untuk produksi kakao di Jatim pada tahun 2020 mencapai 35.304 ton, terdiri dari produksi kakao rakyat sebesar 20.815 ton, produksi kakao Perkebunan Besar Negara 11.249 ton dan Perkebunan Besar Swasta sebesar 3,240 ton.
“Komoditi kakao ini merupakan komoditi strategis untuk mengangkat martabat masyarakat dengan meningkatkan pendapatan petani perkebunan dan tumbuhnya sentra ekonomi regional. Kakao juga merupakan salah satu komoditi perkebunan yang penting dalam pembangunan sub sektor perkebunan, antara lain memenuhi kebutuhan domestik maupun sebagai komoditi ekspor penghasil devisa negara,” terangnya.
Sebelumnya, untuk mempromosikan potensi kakao di Jatim, Dinas Perkebunan Jatim pada 10 Desember 2021 bertempat di Warung Tani Pan Java Dau Malang Menyelenggarakan kegiatan “Gebyar Kopi dan Kakao Jawa Timur Tahun 2021”. Kegiatan ini sekaligus dalam rangka memperingati Hari Perkebunan Nasional ke-64.
Dalam arena gebyar, dipamerkan ragam produk hilir kopi dalam bentuk roasting (sangrai) dan powder (bubuk) yang dikemas menarik dari berbagai sentra produksi di Jatim yakni, Selingkar Ijen-Raung, Selingkar Argopuro, Selingkar Bromo-Tengger-Semeru, Selingkar Arjuno-Kawi-Anjasmoro, Selingkar Kelud, Selingkar Wilis dan Selingkar Lawu. Masing-masing kawasan memiliki citarasa yang khas.
Sementara, produk hilir kakao antara lain minuman cokelat, permen cokelat dan makanan berbasis cokelat dari sejumlah sentra olahan kakao, antara lain Kabupaten Mojokerto, Kediri, Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek. Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 24 stand, meliputi produk hilir kopi dan kakao hasil olah Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) seluruh Jatim.
Salah satunya produk olahan kopi dari Pesantren anggota OPOP (One Pesantren One Product) dan produk olahan kopi, serta cokelat PUSLITKOKA, PTPN XII dan stand Bank UMKM Jatim.
