Tokoh  

Sukarno dan Keindahan Perempuan

Dr. (H.C.) Ir. H. Soekarno
Dr. (H.C.) Ir. H. Soekarno, Presiden Indonesia 1945-1967

Bicara tentang Sukarno, kita tidak akan bisa lepas dari perempuan-perempuan dalam kehidupanya. Istrinya sembilan, itu semua orang sudah tahu. Tapi saya tidak akan berbicara tentang istri-istrinya tersebut. Saya akan sedikit membahas perempuan secara umum di mata Sukarno, sebagaimana Sukarno menuturkannya kepada Cindy Adam dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

“Orang bilang, Sukarno suka melihat perempuan cantik dengan sudut matanya. Itu tidak benar. Sukarno suka melihat perempuan cantik dengan seluruh bola matanya. Tetapi itu bukanlah suatu kejahatan. Bahkan Nabi Muhammad mengagumi kecantikan. Dan sebagai seorang Islam yang saleh, aku adalah pengikut Nabi Muhammad, yang pernah mengatakan, “Tuhan yang dapat menciptakan makhluk cantik seperti kaum perempuan adalah Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Pengasih’.”

“Aku menyukai gadis-gadis menarik di sekitarku, karena aku merasa mereka seperti bunga dan aku senang memandang bunga. Bila hari beranjak siang dan aku mulai lelah. Aku sering kehabisan tenaga. Apabila sekretasrisku yang laki-laki berbadan besar dan botak, datang membawa setumpukan surat-surat untuk ditandatangani, aku akan menyuruhnya segera pergi. Namun sebaliknya, bila yang datang sekretaris perempuan yang bertubuh ramping, dengan dandanan rapi dan menyebarkan bau harum dan sambil tersenyum berkata lembut, ‘Pak, silahkan…’ tahukah engkau apa yang terjadi? Bagaimanapun keadaan hatiku, aku akan menjadi tenang, dan aku langsung menjawab, ‘Baik’.”

BACA JUGA:  Plato Bapak Filsafat Barat

Namun dari reputasinya atas kecintaan kepada perempuan tersebut, Sukarno sering kali menjadi korban media. “Di Tokyo, aku pergi dengan kawan-kawan ke suatu Rumah Geisha. Tidak ada sesuatu yang tidak sopan di sana. Orang-orang sekedar duduk, makan-makan, bercakap-cakap dan mendengarkan musik. Hanya itu. Tetapi dalam majalah-majalah Barat dikembangkan seolah-olah aku ini Le Grand Seducteur, Sang Perayu Agung.”

Tahun 1964 ketika Sukarno berkunjung ke Filipina, ia menginap di Laurels Mansion di mana tinggal Tuan Laurels mantan Presiden Filipina. Menyambut kedatangan Sukarno, mereka menampilkan Bayanihan Cultural Ensemble, dengan sambutan Tari Lenso sebagai tanda penghormatan. “Dua orang gadis maju dan meminta kepadaku untuk turut menari, karena tak mungkin menolaknya, aku mulai menari dan…Klik! Klik! Kilat Lampu! Jepretan kamera! Dan setelah itu sebuah tulisan beredar; Inilah Sukarno, pemburu perempuan, beraksi lagi.”

Di masa kecil, ada satu perempuan yang begitu melekat dalam ingatan Sukarno. Perempuan itu adalah Sarinah, seorang gadis yang membesarkan Sukarno selain ibunya sendiri. Sarinah tinggal bersama keluarga Sukarno, tidak menikah, memakan apa yang keluarga Sukarno makan, juga tidak mendapat gaji sepeser pun. Ia menjadi bagian dari keluarga tersebut. Sarinahlah yang mengajarkan Sukarno arti kasih sayang, “Selagi ia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk di sampingnya dan ia memberi nasehat, ‘Karno, di atas segalanya engkau harus mencintai ibumu. Tapi berikutnya engkau harus mencintai rakyat kecil. Engkau harus mencintai umat manusia.’ Sarinah hanyalah nama biasa, tapi Sarinah yang ini bukanlah wanita biasa. Ia yang paling besar pengaruhnya dalam hidupku.”

BACA JUGA:  Belajar dari Siti Hajar, Perempuan Perantau Bermental Tangguh

Tahun 1928, ketika Sukarno aktif berpidato dan melakukan propaganda perjuangan, untuk mendapatkan banyak informasi dari Polisi Belanda, Sukarno menggunakan para perempuan pelacur sebagai salah satu garda terdepan perjuangan. “Pelacur adalah mata-mata yang paling baik di dunia.”

Suatu hari, untuk menghindari pengawasan Polisi Belanda, Sukarno memutuskan untuk menyelenggarakan rapat di rumah pelacuran. “Kami pergi sendiri-sendiri atau dalam kelompok kecil. Setelah rapat berhasil mengambil keputusan, kami bubar. Seorang melalui pintu samping, seorang melalui pintu depan, aku mengambil jalan belakang, dan seterusnya.”

Tindakan Sukarno yang memanfaatkan prostitusi dalam kegiatan perjuangan itu, tentu saja mendapat kecaman hebat dari sesama anggota Partai, terutama dari Ali. Namun Sukarno bersikukuh, karena dari ratusan anggota partai perempuan pelacur itulah, Sukarno bisa mendapatkan banyak informasi. Juga masih ada prestasi lain yang mengagumkan dari perempuan-perempuan ini.

Mereka adalah satu-satunya anggota partai yang memiliki uang. Mereka menjadi penyumbang keuangan partai yang baik. “Dalam kerja ini maka para gadis pesanan, pelacur atau apapun nama yang akan diberikan kepada mereka merupakan orang-orang penting. Anggota lain dapat kutinggalkan. Tetapi meninggalkan perempuan macam mereka, tunggu dulu!”

BACA JUGA:  Feminisme, Kapitalis Vs Kapitalis

Suatu hari, ketika Sukarno sudah menjadi Presiden, pukul lima sore saat ia hendak jalan sore di lingkungan istana, seorang pejabat polisi menghadap hendak memberikan laporan. Rupanya ia dan tim habis memeriksa tempat lokalisasi.

“Kemarin serombongan petugas memeriksa keadaan mereka dan Bapak tahu apa yang mereka temukan? Mereka menemukan potret Bapak terpasang di dinding. Di setiap kamar. Di dalam setiap kamar.” Dengan gelisah pejabat polisi tersebut melirik ke Sukarno, “Apa yang harus kami lakukan? Apakah potret-potret Bapak harus dipindahkan dari dinding-dinding itu?”

Sukarno dengan tegas menjawab, “Jangan! Tak usah fotoku diturunkan. Biarkan mataku yang tua dan letih itu menikmati pemandangan di sana.”

Begitulah sosok Sukarno, sampai akhir hayatnya, ia tidak pernah lepas dari lingkaran keindahan perempuan. Dan menurut Cindy Adams, cara yang mudah menggambarkan sosok Sukarno ialah dengan menyebutnya seorang mahapencinta. Ia mencintai negerinya, mencintai rakyatnya, mencintai perempuan, mencintai seni, dan di atas segalanya, ia mencintai diri sendiri.

 

Maduretna Menali tinggal di Ibu Kota dan mempunyai kegemaran membaca

Tinggalkan Balasan