Opini  

Vox Populi Vox Dei: Benarkah suara Rakyat adalah suara Tuhan?

Madurapers
Foto penulis/Hanif Muslim

Pertama, suara rakyat di sini bukan suara Tuhan, tapi suara “setan”, dari insane society, walaupun banyak juga yang masih waras. Kedua, rakyat yang minder kalah perang dan kelaparan rawan provokasi. Harapan rakyat sangat jangka pendek: panis et circentes. Butuh makanan, butuh hiburan dari rasa tertekan.

Ketiga, Hitler adalah pekerja keras, namun kasar dan arogan untuk menutupi kekosongan jiwanya. Beberapa psikiater mengatakan Hitler mengidap inferiority complex. Sifat kerja keras dan tak kenal menyerah mengantarkan dia menjadi pemimpin tertinggi Jerman.

Keempat, kekuasaan, manipulasi kata, sistem yang menindas dan kekerasan negara ditambah ideologi yang ilusif menjadi semacam obat palsu yang diminum rakyat Jerman.

Ada satu contoh lagi kisah demokrasi. Di Italia, ada Partai Cinta (PdA= Partito dell’Amore) yang didirikan pada 12 Juli 1991 oleh para pendukung Ilona Staller (dikenal sebagai Cicciolina) dan Moana Pozzi. Keduanya aktris pornografi yang terjun ke dunia politik.

Dengan demikian, banyak tema seks, toleransi, kebebasan dan sensor diangkat dalam kampanyenya. Dalam otobiografinya tahun 1991, Moana, yang meninggal karena AIDS mengisyaratkan perselingkuhan dengan berbagai pria terkemuka dan penting dalam masyarakat Italia.

Bahkan pernah mengampanyekan anggotanya menjadi wali kota Roma yang di dalamnya ada negara Vatikan, tahta Paus! Itulah hasil dari demokrasi: rakyat memilih mereka! Bagaimana melihat peristiwa itu?

Pertama, ada bagian kecil yang memilihnya dalam pemilu: rakyat yang rendah selera dan tidak berpikir tentang Negara akan memilih Partai Cinta.

Kedua, ternyata, selain rakyat ada juga pembesar partai yang “berlangganan” kepada profesi pelacur kelas atas itu. Ketiga, sistem demokrasi, atas nama kebebasan memungkinkan berdirinya Partai Cinta karena dijamin undang-undang.

Hamba ingin membuat dan memberikan kesimpulan singkat yang bisa kita ambil dari tiga kasus di atas. Pertama, masyarakat yang sakit akan memunculkan pemimpin yang sakit. Sebaliknya pemimpin yang sakit dan segala sistem dan strukturnya akan membuat masyarakat menjadi sakit.

Nah, menjadi semacam circulus vitiosus atau lingkaran setan. Kedua, masyarakat yang matang kesadaran kewarganegaraannya, kuat dan teruji imannya akan memilih pemimpin yang sesuai nuraninya, akalnya yang sehat. Ketiga, pada umumnya masyarakat ada di tengah-tengah. Terdapat gandum dan ilalang dalam hidup bersama. (Calon) Pemimpin bermacam-macam.

Keempat, lantas bagaimana supaya demokrasi menjadi sehat dan tidak liar? Tahun demi tahun demokrasi menjadi beradab? Kuncinya adalah pendidikan politik dan budaya politik yang ditumbuhkan terus menerus.

Ada kebiasaan, norma, pengetahuan umum, dan simbol-simbol politik yang menjadi milik bersama. Ada public space, forum publik untuk memekarkan jiwa orang-orang muda agar tidak apatis dan ahistoris, tidak hedonis, serta bermental praktis-prakmatis.

Ini butuh usaha bersama. Tidak mudah! Tapi harus! Vox populi vox Dei jangan sampai menjadi vox populi vox diaboli. Jangan sampai suara rakyat menjadi suara setan.

***Hanif Muslim, adalah mahasiswa UNU Yogyakarta dan berasal desa Amparaan Kab. Bangkalan.