Bangkalan – Semut termasuk anggota famili (suku) formacidae dan ordo (bangsa) hymenoptera. Makhluk ini merupakan serangga sosial dengan koloni dan sarangnya yang teratur dan dihuni oleh ribuan bahkan jutaan semut.
Aneh tapi nyata, semut memiliki organisasi dan struktur sosial sebagaimana layaknya kehidupan manusia. Organisasi sosial semut sangat sederhana, yakni tidak ada pemimpin, administrator, polisi dan tentara, perencanaan dan program sosial.
Namun demikian, tugas setiap semut tidak ada yang terkendala karena faktor tersebut. Hal ini karena adanya organisasi diri yang sangat canggih pada setiap semut. Contohnya, semut pekerja di masa paceklik dapat berubah menjadi semut pemberi makan bagi semut lainnya.
Komunikasi antar semut dalam organisasi menggunakan isyarat kimiawi. Zat semiokemikal digunakan semut dalam berkomunikasi dengan semut yang lain. Zat ini ada dua, yakni alamon dan feromon.
Zat alamon digunakan semut untuk berkomunikasi antar genus yang sama dan saat disekresikan oleh semut dapat dicium oleh semut yang lain. Saat semut mensekresi (proses membuat dan melepaskan zat kimia dalam bentuk lendir yang dilakukan oleh tubuh dan kelenjar) cairan ini sebagai isyarat (pesan), semut yang lain menangkap pesan ini lewat bau/rasa dan kemudian menanggapinya.
Zat feromon digunakan semut sebagai isyarat yang disekresikan menurut kebutuhan koloni. Selain itu, konsentrasi feromon yang disekresikan semut bervariasi menurut kedaruratan situasi.
Setiap koloni semut terdapat struktur sosial, yakni sistem kasta yang ditaati semua semut. Kasta ini, terdiri dari 3 (tiga) kasta, pertama kasta semut ratu dan jantan, kedua kasta semut prajurit, dan ketiga kasta semut pekerja.
Semut ratu dalam satu koloni lebih dari satu dan tubuhnya lebih besar dari semut lainnya. Semut jantan tubuhnya lebih kecil dari semut ratu dan jumlahnya sedikit dibandingkan dengan semut betina.
