Amerika Serikat dengan alasan demokrasi, HAM, dan penyapih pengaruh China di Indonesia kemungkinan berminat mendukung Paslon Nomor 1 (Anis-Muhaimin). Sementara Singapura berpotensi mendukung semua Paslon yang instrumennya berpeluang menang dan yang mampu menjaga stabilitas di kawasan ASEAN.
Dukungan negara-negara tersebut terhadap Paslon Nomor 1 dan 3 belum begitu tampak kelihatan. Kemungkinan, kata Mardigu, akan terlihat riil menjelang pencoblosan Pilpres 2024. Beda dengan dukungan China terhadap Paslon Nomor 2, yang kata Mardigu, indikasinya sudah tampak jelas.
Operasi cawe-cawe negara-negara asing dalam Pilpres 2024 melalui penetrasi kapital, dukungan teknologi, dan sistem lainnya. Waktu operasinya, China bermain sejak di awal Pilpres 2024, sementara Amerika Serikat dan Singapura kemungkinan akan bermain jelang pencoblosan Pilpres 2024.
Dari ketiga negara tersebut, kata Mardigu, cawe-cawe China dan Amerika Serikat dalam Pilpres 2024 yang berbahaya bagi Indonesia, sementara Singapura sebaliknya (tidak berbahaya, red.). Potensi bahaya China bagi Indonesia adalah ancaman ideologi komunisnya yang otoriter, sedangkan Amerika Serikat bisa mengancam tatanan ekonomi ketika investasinya ditarik dan kurs dolar USD terhadap rupiah dinaikkan. Jika itu terjadi, ekonomi Indonesia akan kembali ambruk seperti krisis moneter tahun 1997.
