Polda Jatim Ungkap Pengadaan Alat Kesehatan Fiktif Senilai Rp 30 Miliar

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Repli Handoko (kiri) bersama Kasubdit III Jatanras AKBP Lintar Mahardono, Rabu (26/1/2022) paparkan modus operandi tersangka TNA tawarkan proyek fiktif alkes kepada para korbannya (Sumber Foto : Bid Humas Polda Jatim)

Surabaya – Unit I Subdit III Jatanras Direktorat Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim mengungkap tindak pidana investasi fiktif pengadaan alat kesehatan (alkes) yang dilakukan oleh tersangka TNA (36) seorang wanita asal Kota Surabaya. Tersangka TNA (36) mengaku kepada para korban bahwa dirinya mengelola bisnis investasi pengadaan alkes di beberapa Rumah Sakit (RS).

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko pada jumpa pers, Rabu (26/1/2022) menjelaskan tersangka TNA ini melakukan penipuan di Surabaya dan Jakarta. Gatot, panggilan karibnya, dari pengaduan masyarakat, Polda Jatim menerima 6 Laporan Polisi (LP) dan tidak menutup kemungkinan masih ada korban yang lain.

“Total kerugian dari 6 LP hampir Rp 30 miliar. Tetapi, tidak menutup kemungkinan kerugian akan bertambah,” bebernya.

Tersangka TNA kata Gatot dikenakan Pasal 378 KUHP tentang penipuan ancaman hukuman 4 tahun penjara dan Pasal 3,4,5 dan 6 Juncto Pasal 10 UU Nomor 8 tahun 2010 tentang pencucian uang dengan ancaman penjara selama 15 tahun.

“Jika ada masyarakat yang merasa dirugikan, Polda Jatim membuka Hotline dengan nomor 081323552012. Ini terkait pengaduan alkes fiktif,” himbaunya.

BACA JUGA:  Pria Asal Pamolokan Sumenep Ini Diringkus Satresnarkoba

Sementara itu, Kasubdit III Jatanras AKBP Lintar Mahardono menyampaikan bahwa modus operandi yang dilakukan tersangka mengambil contoh paket paket pengadaan alkes melalui Google dan membuat Surat Perintah Kerja (SPK) palsu yang nantinya disebar oleh tersangka melalui Whatshapp kepada para korban. Setiap paket urai Pintar, sapaan akrabnya, dalam tempo 14-17 hari akan mendapatkan keuntungan 40 persen.

“Ada 12 RS di luar Jawa yang saat kami konfirmasi ternyata tidak pernah ada kerjasama dan tidak kenal dengan tersangka yang memang sengaja menyangkut nama – nama RS tersebut untuk pengadaan alkes palsu. Sedangkan untuk korban dimungkinkan lebih dari enam orang,” paparnya.

Sampai saat ini sambung Lintar, korban rata rata perorangan. Kenapa korban bisa percaya sama korban?, Lintar menerangkan karena tersangka TNA sendiri menjanjikan bahwa korban akan diberi keuntungan 40 persen.

“Mungkin dimasa seperti saat ini sehingga korban tergiur dengan tawaran tersangka,” pungkasnya.

Polisi juga mengamankan beberapa barang bukti diantaranya, satu buah Hand Phone, laptop, rekening BCA, SPK, surat perjanjian usaha, serta bukti transfer dari para korban dan percakapan WhatsApp antara korban dan tersangka TNA.

BACA JUGA:  Puluhan Personel Dikerahkan untuk Amankan Ibadah Natal di Sumenep

Tinggalkan Balasan