Opini  

Politik Uang dalam Pemilu: Dampak Negatif dan Cara Praktis Pembasmiannya

Mohammad Fauzi, pemerhati dan peneliti kajian sosial (Dok. Madurapers, 2024).
Mohammad Fauzi, pemerhati dan peneliti kajian sosial (Dok. Madurapers, 2024).

Indonesia, sebuah negara demokratis yang kaya akan keberagaman, terus dihadapkan pada tantangan serius dalam ranah politiknya. Salah satu isu yang mencoreng integritas pemilihan umum (Pemilu) adalah praktik politik uang yang semakin merajalela. Praktik ini menjadi racun demokrasi elektoral, yang membunuh konstestasi politik, partisipasi politik, hak-hak politik, dan kebebasan sipil.

Politik uang, atau sering disebut dengan istilah “money politics,” adalah praktik memberikan hadiah atau uang kepada pemilih dengan tujuan memengaruhi hasil pemilihan. Bentuknya, mulai dari pembagian sembako, uang tunai, hingga janji-janji imbalan tertentu setelah calon terpilih. Praktik ini tidak hanya melibatkan calon politik, tetapi juga para pendukungnya.

 

Dampak Negatif Politik Uang

Ada beberapa dampak negatif dari praktik politik uang. Pertama, memicu persaingan yang tidak fair dan adil. Calon yang memiliki sumber daya finansial lebih besar cenderung memiliki keunggulan dalam memasarkan dirinya, sementara calon dari kelompok ekonomi menengah ke bawah mungkin kesulitan untuk bersaing. Akibatnya, pemilih dapat dipengaruhi oleh imbalan finansial daripada pemahaman mendalam tentang visi dan program calon.

Kedua, merugikan kualitas perwakilan dalam sistem demokrasi. Calon yang terpilih dengan bantuan politik uang mungkin lebih cenderung mewakili kepentingan kelompok atau individu yang mendanainya, daripada mewakili kebutuhan seluruh masyarakat. Ini dapat mengakibatkan kebijakan yang tidak selaras dengan kepentingan rakyat secara keseluruhan.

Eksplorasi konten lain dari Madurapers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca