Hikmah  

Adab (Etika) Pengucapan Salam

Madurapers
Ilustrasi anak kecil muslim sedang bersalaman (Sumber: 123rf, 2017).

Bangkalan – Salam dapat kita jumpai dalam kehidupan sosial orang Islam. Salam ini termasuk kalimat yang baik yang dicintai Allah S.W.T., sehingga bagi yang mengucapkan dan menjawabnya jiwa akan menjadi baik dan mendatangkan rasa cinta.

Kalimat salam itu: “Assalaamu ‘alaikum”, “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah”, atau “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh”. Kalimat: “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh” ini artinya: “Semoga seluruh keselamatan, rahmat, dan berkah Allah dilimpahkan kepada kalian”.

Pengucapan kalimat salam tersebut menjadi perilaku sehari-hari para sahabat Nabi Muhammad s.a.w., hal ini karena salam itu merupakan sunnah para nabi dan rasul.

Lalu, bagaimana adab (etika) salam itu? Abu Izzat Ramadhan menjelaskan ada beberapa adab yang harus diperhatikan dalam menyebarkan salam. Adab penyebaran salam itu adalah sebagai berikut:

Pertama, urutan salam. Orang yang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalan, yang berjalan kepada yang duduk, yang sedikit kepada yang banyak, dan yang muda kepada yang tua (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kedua, mendahului salam. Sesuai dengan sunnah nabi, hendaklah mendahului memberi salam kepada orang lain. Rasulullah s.a.w., mengajarkan kepada kita untuk memulai salam dan orang yang memulai salam termasuk orang mulia (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi; H.R. Tirmidzi).

Ketiga, menjawab dengan setara atau lebih. Bila ucapan salam: “Assalaamu ‘alaikum,” maka jawaban minimal: “Walaikumussalaam,” jawaban maksimal: “Walaikumussalaam warahmatullaah,” dan jawaban optimal: “Walaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh.”

Apabila ucapan salam: “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah, ”maka jawaban minimal: “Walaikumussalaam warahmatullaah,” dan jawaban maksimal: “Walaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh”.

Apabila ucapan salam: “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,”_ maka jawaban minimal adalah _“Walaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh”.

Keempat, dengan menjabat tangan. Pengucapan salam itu hendaklah dengan berjabat tangan. Menjabat tangan saudara kita merupakan akhlaq yang indah (H.R. Muslim), memiliki nilai kehangatan dan persahabatan, dan menghapus dosa (H.R. Abu Daud), dan tidak melakukannya dengan lawan jenis (H.R. H.R. Tirmidzi dan Nasa’i).

Kelima, berwajah manis. Pengucapan kalimat salam dilakukan dengan menyenangkan dan senyum mengembang (H.R. Bukhari).

Keenam, tidak memalingkan muka. Pengucapan salam tidak boleh dengan memalingkan muka. Hal ini karena nilai ucapan salam menjadi hampa dan hilang (Q.S. Luqman: 18).