Tujuannya sudah pasti dapat diperkirakan adalah untuk membalikkan keadaan (rebound). Yakni, kembali menaikkan (Paslon Nomor Urut 3) basis dukungan pemilih yang telah digerus atau dirusak oleh Paslon Nomor Urut 2 (Dua).
“Jadi ketat (persaingan/kontestasi politik dalam Pilpres 2024, red.) sekali ini antara 03 (Paslon Nomor Urut 3) dan 02 (Paslon Nomor Urut 2) sebetulnya di bawah (wilayah dan segmen basis mereka, red.),” ungkapnya.
Menurutnya, persaingan politik itu tidak berjalan begitu saja (sederhana dan alamiah, red.). Yakni, apabila Paslon Nomor Urut 2 (Dua) naik, maka secara otomatis Paslon Nomor Urut 3 (Tiga) turun. “Tunggu dulu,” kata Eep.
Hal ini karena pada saat yang sama, kata Eep lebih lanjut, Paslon Nomor Urut 1 (Satu) mengalami kenaikan, meski tidak begitu tajam, menurut hasil survey-nya di September-November 2024. Jadi, sama seperti Paslon Nomor Urut 3 (Tiga), paslon ini sama-sama berpeluang masuk pada putaran kedua Pilpres 2024.
Keadaan konflik antara Paslon Nomor Urut 3 (Tiga) dan Paslon Nomor Urut 2 (Dua), prediksi Eep, ada kemungkinan melahirkan kejutan lain yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
“PDI Perjuangan, PKS itu jangan-jangan besok menjadi satu kelompok yang melawan tuh di Putaran Kedua (Pilpres 2024, red.). Boleh jadi,” prediksi Eep.
Jadi, kata Eep, kejuatan-kejutan dalam Pilpres 2024 bukan hanya konflik, yakni munculnya titik pecah, tapi juga menculnya titik temu. “Orang yang tak pernah dibayangkan bisa bertemu ternyata bertemu; orang yang tidak dibayangkan bisa berpisah ternyata berpisah,” paparnya.
