Telaah Terhadap Valume Impor Garam Indonesia Selama Kurun Waktu Lima Tahun

Foto: Garam Rakyat di Pulau Jawa

Jakarta – Impor garam periode tahun 2016-2020 volumenya terus mengalami kenaikan. Kebijakan impor garam ini diambil pemerintah karena selama kurun waktu tersebut produksi garam nasional tidak mencukupi kebutuhan garam nasional.

Selama kurun waktu tersebut impor garam Indonesia secara akumulatif mencapai 12.739.083,9 ton dengan nilai CIF (Cost Insurance and Freight) mencapai US$450.343,8 juta. Pada tahun 2016 impor garam mencapai 2.143.743,0 ton dan tahun 2020 meningkat menjadi 2.608.043,0 ton dengan nilai CIF tahun 2016 mencapai US$80.013,5 juta dan tahun 2020 meningkat menjadi US$94.561,1 juta.

Negara eksportir garam terbesar ke Indonesia adalah Australia dan paling kecil adalah negara lainnya. Total ekspornya tahun 2016 negara Australia mencapai 1,753,934.2 ton dan tahun 2020 meningkat menjadi 2,227,521.7 ton dengan nilai CIF-nya tahun 2016 sebesar US$70.330,0 juta dan tahun 2020 meningkat menjadi US$80.972,1 juta. Negara lainnya, nilai ekspornya tahun 2016 sebesar 918.6 ton dan tahun 2020 menurun menjadi 459,6 ton dengan nilai CIF-nya tahun 2016 sebesar US$245,8 juta dan tahun 2020 menurun menjadi US$103,0 juta.

BACA JUGA:  Menkeu Serahkan Nama Calon Dewan Komisioner OJK ke Presiden

Perkembangan impor garam tersebut tahun 2015-2016 mencapai 279.693,7 ton dan tahun 2019-2020 sebesar 12.645,7 ton. Selama kurun waktu tersebut, jumlah impor garam dari Australia, Selandia Baru, dan Denmark mengalami peningkatan signifikan.

Perkembangan nilai CIF-nya tahun 2015-2016 sebesar US$6.181,9 juta dan tahun 2019-2020 sebesar -US$961,3 juta. Linier dengan perkembangan volume impornya, pada kurun waktu tersebut nilai CIF impor garam dari Australia, Selandia Baru, dan Denmark mengalami peningkatan signifikan.

Produksi garam nasional tahun 2016 mencapai 144.009,00 ton, tahun 2017 mencapai 1.020.925,27 ton, tahun 2018 mencapai 2.349.629,81 ton, tahun 2019 mencapai 2.777.547,00 ton, dan tahun 2020 mencapai 2.327.078,00 ton.

Kebutuhan garam tahun 2016 mencapai 3.532.887,00 ton, tahun 2017 mencapai 3.729.334,00 ton, tahun 2018 mencapai 4.011.883,00, tahun 2019 mencapai 4.162.502,00 ton, dan tahun 2020 mencapai 4.464.670,00 ton.

Kekurangan kebutuhan garam nasional tahun 2016 mencapai 3.388.878,00 ton, tahun 2017 mencapai 2.708.408,75 ton, tahun 2018 mencapai 1.662.253,19 ton, tahun 2019 mencapai 1.384.955,00 ton, dan tahun 2020 mencapai 2.137.592,00 ton.

BACA JUGA:  PKS: Pertumbuhan Ekonomi 2021 Belum Memuaskan

Berdasarkan kondisi garam nasional tersebut, pemerintah kemudian mengimpor garam. Namun, dari analisis Tim Redaksi Mediapers impor garam tahun 2016-2017 belum memenuhi kebutuhan garam nasional dan tahun 2018-2020 melampaui kebutuhan garam nasional. Kekurangannya tahun 2016 mencapai -1.245.135,00 ton dan tahun 2017 mencapai -155.585,6 ton, sedangkan pada tahun 2018 mengalami kelebihan sebesar 1.176.824,20 ton, tahun 2019 mencapai 1.210.442,30 ton, dan tahun 2020 mencapai 470.451,00 ton.

Dari data tersebut, Tim Redaksi Madurapers menilai bahwa selama kurun waktu tahun 2016-2017 pemerintah belum mampu memenuhi kebutuhan garam nasional dan pada kurun waktu 2018-2020 impor garam pemerintah melampaui kebutuhan garam nasional.

Tinggalkan Balasan